Friday, April 14, 2017

thumbnail

PELUANG USAHA MENJANJIKAN BUDI DAYA ULAT SUTRA

http://usaha-success.blogspot.co.id/2017/04/peluang-usaha-menjanjikan-di-bidang.html
Ulat sutra (Bombyx mori) adalah ulat atau larva kupu-kupu yang termasuk dalam famili Bombycidae. Secara ekonomis, Usaha budi daya ulat sutra sangat menjanjikan karena menghasilkan sutra. Pakan ulat sutra semata-mata hanya daun-daun pohon murbai (Morus alba) yang mampu dikonsumsi sepanjang pagi dan malam hari.
Telur-telur akan dihasilkan setelah 10 hari berada di penetasan. Jika warna kepalanya menjadi gelap, menunjukan bahwa akan terjadi pergantian kulit. Setelah berganti kulit sebanyak 4 kali, badan ulat sutra menjadi sedikit kuning dan kulitnya menjadi lebih rapat. Larva menutup diri dalam kokon dengan sendirinya sebagai bahan baku sutra yang diproduksi dalam kelenjar liur. Beberapa binatang Bombyidae dan Saturniidae yang mampu berproduksi dalam jumlah besar.
Ulat sutra mempunyai sepasang kelenjar air liur yang disebut sericteries. Kelak, air liur ini digunakan untuk memproduksi cairan jernih, kental, dan mengandung protein yang tinggi, disebut sepinneret. Jika terkena udara, cairan kental ini akan mengeras, ukuran diameter sprinneret sangat menentukan tebalnya benang sutra. Adapun taksonomi ulat sutra sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum      : Arthoropoda
Kelas      : Insecta
Ordo       : Lepidoptera
Famili     : Bombycidae
Genus     : Bombyx
Sepesies  : B. mori

Cara pemeliharaan bibit

Pemilihan jenis bibit ulat sutra tergantung pada ketinggian daerah. Untuk daerah yang berada pada ketinggian sekitar 700 m dpl, biasanya menggunakan bibit yang bermutu tinggi, berasal dari jepang. Pada daerah yang agak rendah (<700 m dpl), bibit yang digunakan merupakan hasil persilangan antara jenis lokal dan dan jenis Jepang. Daerah tropis yang baik untuk digunakan sebagai tempat budi daya ulat sutra yaitu daerah pegunungan.
Biasanya 1 kotak bibit ukuran berat 11,7g berisi kira-kira 20,000 bibit telur. Pada pemeliharaan musim kemarau, bibit tersebut dapat menghasilkan 25-30 kg kokon basah. Untuk menghasilkan 1 kg kokon, diperlukan kira-kira 20 kg daun murbai. Oleh karena cocok dipelihara di daerah pegunungan, ulat sutra pada musim hujan dapat menghasilkan kokon basah lebih besar. 

Perkandangan

Pemeliharaan ulat sutra dilakukan dalam peti (box rearing) dengan ukuran (95x70x12) cm yang terbuat dari kayu, seng, atau alumnium. Untuk kenyamanan ulat sutra, peti tersebut di lengkapi dengan sirkulasi udara yang cukup. Suhu dalam peti berkisar 27-28┘ąC dengan kelembaban udara 90%. Untuk mempertahankan kelembaban, peti dapat dilapisi dengan kain kasar di bagian dasarnya. Selama pemeliharaan, penchayaan perlu diatur. Dalam sehari, 16-18 jam peti dalam keadaan terang dan 6-8 jam dalam keadaan gelap. Ulat sutra lebih suka pada keadaan cahaya lemah. Pada keadaan gelap, ulat sutra lebih aktif bergeral, kokon lebih berat, dan bagian benang sutra pun lebih besar.

Tata laksana pemeliharaan

Produksi kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sangat tergantung pada iklim setempat dan cara pengelolaan. Sebaiknya, lokasi untuk pembudidaya ulat sutra  memiliki iklim dan tanah yang cocok dengan pertumbuhan daun murbai. Dengan demikian, ulat sutra mampu memproduksi kokon berkualitas. Ulat sutra sebaiknya diperoleh oleh orang yang memiliki kemauan dan kemampuan yang tinggi, Terutama pada stadia ke-5 sampai waktu mulai mengkokon. Pada saat ini, diperlukan ketelatenan peternak karena ulat sutra memrulkan daun murbai dalam jumlah banyak.
Pemeliharaan ulat sutra kecil yang paling baik yaitu dengan cara gabungan. Mulai dari saat menetas hingga memasuki setadia ke-3 anakan ulat sutra perlu dijaga dari serangan semu, tikus, dan lalat. Suhu dan kelembaban udara perlu dijaga agar kondisinya stabil. Selain itu, pada saat ini ulat sutra juga membutuhkan udara bersih dan segar karena bernapas dengan 18 alat pernapasan yang terletak di samping kanan dan kiri tubuhnya. Ulat sutra juga mempunyai pipa udara yang  bercabang-cabang sehingga bisa menyalurkan oksigen kedalam darah dan membuang karbondioksida dan gas-gas lain yang tidak berguna ke luar tubuhnya. Ulat sutra tidak menyukai cahaya yang terlalu terang atau terlalu gelap, tetapi lebih suka pada cahaya yang lemah (15-30 lux).

Pemberian pakan

Pakan yang diberikan berupa daun murbai segar yang dipetik pada pagi hari. Dengan demikian, daun murbai tersebut mengandung air, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral dalam jumlah memadai. Dan yang sudah layu atau kering tidak baik untuk ulat sutra.
Kebutuhan air pada ulat sutra hingga stadia ke-5 tidak terlalu banyak. Kebutuhan air mulai meningkat ketika ulat sutra akan membentuk kokon. Selain air, untuk membuat kokon juga diperlukan daun murbai yang mengandung banyak protein.
Pada ulat sutra kecil, sebaiknya daun murbai yang diberikan diiris terlebih dahulu. Sementara daun murbai untuk ulat sutra yang sudah besar tidak perlu diiris, bahkan juga bisa ditambahkan cabang dan ranting-rantingnya. Pemberian daun murbai disesuaikan dengan kebutuhannya yang selalau berubah-ubah sesuai dengan perkembangan ulat sutra.
Sekian tentang peluang usaha menjanjikan di bidang budi daya ulat sutra, jangan lupa baca juga tips sukses usaha ternak jangkrik.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments